INDOKAYA | KEPAHIANG – Kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa belasan siswa SD Negeri 18 Taba Tebelet, Kabupaten Kepahiang, masih dalam penyelidikan. Aparat kepolisian menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab insiden yang menyebabkan 16 orang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa tersebut melibatkan 14 murid, satu guru, dan satu penjaga sekolah yang sempat mendapatkan perawatan medis setelah mengalami keluhan seperti mual, muntah, sakit perut, dan pusing.
Kapolres Kepahiang AKBP Yuriko Fernanda mengatakan, kepolisian belum mengambil kesimpulan terkait sumber penyebab kejadian tersebut. Menurut dia, langkah lanjutan akan ditentukan setelah hasil uji laboratorium diterima.
“Kita lihat dulu hasil lab, jika hasilnya sudah keluar kita akan informasikan,” kata Yuriko, Jumat, 5 Juni 2026.
Menurut dia, apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya hubungan antara makanan yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Taba Tebelet dengan kasus yang dialami para siswa, operasional dapur MBG tersebut dapat dihentikan sementara untuk kepentingan evaluasi dan penyelidikan.
Selain penghentian distribusi makanan, aparat juga membuka kemungkinan dilakukan penyegelan fasilitas pengolahan makanan apabila ditemukan indikasi yang memerlukan pendalaman lebih lanjut.
SPPG Taba Tebelet diketahui melayani sekitar 1.700 porsi makanan setiap hari untuk lima sekolah di wilayah tersebut. Karena itu, hasil investigasi laboratorium dinilai penting untuk memastikan keamanan program yang saat ini masih berjalan.
Sejumlah sampel telah diamankan dan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa. Pengujian dilakukan guna mengetahui ada atau tidaknya kontaminasi pada makanan maupun faktor lain yang dapat memicu gangguan kesehatan para korban.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebelum menyampaikan kesimpulan resmi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kepahiang, Wisnu, mengatakan pihaknya belum dapat memastikan sumber penyebab kejadian tersebut.
“Saat ini belum ada dugaan sementara, kita akan kirimkan dulu sampel ke laboratorium,” ujarnya.
Menurut Wisnu, sampel yang diperiksa tidak hanya berasal dari makanan yang dikonsumsi para korban. Petugas juga mengambil sampel sisa muntahan korban untuk mendukung proses identifikasi penyebab kejadian.
Beberapa menu yang diperiksa antara lain nasi, pergedel tahu, sambal telur, buah salak, serta tumis jagung dan kol. Selain itu, petugas turut mengamankan sisa makanan dalam kemasan plastik, air minum isi ulang yang digunakan saat penyajian, serta dua botol sampel air sumur dari dapur SPPG Taba Tebelet.
Hasil laboratorium nantinya akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan aparat penegak hukum dalam menentukan langkah berikutnya, termasuk evaluasi terhadap standar sanitasi, kebersihan, dan kelayakan operasional dapur penyedia makanan MBG.
Hingga Jumat petang, proses pemeriksaan sampel masih berlangsung. Pemerintah meminta masyarakat menunggu hasil resmi laboratorium sebelum menarik kesimpulan mengenai penyebab pasti insiden tersebut.



