BENGKULU,- Di balik rimbunnya hutan hulu Provinsi Bengkulu, aliran Sungai Musi menyimpan kekuatan yang lebih dari sekadar pemandangan. Ia adalah denyut nadi yang menghidupi rumah-rumah, menggerakkan roda usaha, dan menerangi masa depan. Melalui PLTA Musi berkapasitas 210 Megawatt (MW), air tidak hanya mengalir, ia bertransformasi menjadi tulang punggung energi bersih bagi sistem kelistrikan Sumatera.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Penyelamat di Kala Gelap

PLTA Musi bukan sekadar pelengkap dalam peta energi nasional. Dengan kontribusi mencapai 294 MW terhadap sistem Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), unit ini adalah “jangkar” bagi stabilitas listrik di lima provinsi: Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jambi, hingga Sumatera Barat.

Bahkan, saat sistem kelistrikan Sumatera mengalami gangguan besar atau blackout, PLTA Musi memegang peran vital sebagai unit black start. Ia adalah mesin pertama yang mampu “membangunkan” kembali sistem Grid 150 kV Sumatera dari kegelapan. Hebatnya lagi, kapasitas PLTA Musi sebenarnya sudah melampaui beban puncak listrik seluruh Provinsi Bengkulu yang berada di angka 140 MW.

Warisan Hijau untuk Dunia

Operasional PLTA Musi membuktikan bahwa industri dan alam bisa berjalan beriringan. Tanpa polusi udara maupun limbah berbahaya, pembangkit ini menjadi garda terdepan dalam menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil. PLTA Musi berhasil mereduksi emisi hingga 724 juta ton CO₂ ekuivalen melalui skema perdagangan karbon internasional. Sebuah angka yang mempertegas posisinya sebagai pembangkit ramah lingkungan kelas dunia.

Ancaman di Balik Arus

Namun, keberlanjutan energi hijau ini kini sedang diuji. Keberadaan turbin sangat bergantung pada “kesehatan” hulu sungai. Saat ini, setidaknya ada tiga ancaman yang menghantui operasional pembangkit:

  • Sampah Domestik: Pernah terjadi momen kritis di mana unit pembangkit harus berhenti total selama 5 hari hanya karena tumpukan sampah.

  • Sedimentasi: Pendangkalan akibat alih fungsi lahan yang mengancam debit air.

  • Gulma: Laju pertumbuhan eceng gondok yang menghambat aliran menuju bendungan.

Merangkul Masyarakat, Menjaga Alam

Menyadari bahwa teknik saja tidak cukup, manajemen PLTA Musi melakukan pendekatan humanis melalui pelestarian daerah tangkapan air (catchment area) seluas 58.000 hektar. Strategi ini tidak hanya melibatkan mesin, tapi juga hati masyarakat:

  1. Hutan Kemasyarakatan: Petani di Desa Air Hitam dan Desa Tanjung Alam kini menjadi “satpam” hutan. Alih-alih merambah, mereka didorong menanam komoditas bernilai seperti kopi, pala, dan durian untuk menjaga resapan air sekaligus menggerakkan ekonomi desa.

  2. Ekonomi Sirkular: Lewat kerja sama dengan Bank Sampah Berkah, sampah plastik yang hanyut ke bendungan disulap menjadi produk bernilai. Tak ketinggalan, eceng gondok yang sebelumnya dianggap pengganggu kini diolah menjadi pupuk kompos.

  3. Inovasi Atap: Sebagai komitmen tambahan, atap gedung PLTA kini dipasangi panel surya (PLTS on-grid) sebagai bentuk diversifikasi energi terbarukan.

Langkah kolaboratif ini menjadi pengingat penting: menjaga aliran listrik untuk masa depan dimulai dari cara kita menjaga setiap tetes air di hulu. Menjaga hulu berarti menjaga kehidupan.(*)

Print