INDOKAYA | KEPAHIANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kepahiang bergerak cepat menyikapi kasus dugaan keracunan makanan yang dialami belasan warga sekolah usai mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (4/6/2026).
Sebanyak 16 orang yang terdiri dari 14 murid sekolah dasar, satu guru, dan satu penjaga sekolah dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan MBG. Para korban sempat menjalani perawatan medis di puskesmas terdekat dengan keluhan mual, muntah, sakit perut, hingga pusing.
Untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut, Dinkes Kepahiang akan melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah sampel makanan dan bahan lain yang diduga berkaitan dengan kasus tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kepahiang, Wisnu, mengatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab yang mengakibatkan para korban mengalami gejala tersebut.
“Untuk sementara belum ada dugaan penyebabnya. Kita akan kirimkan terlebih dahulu sampel-sampel yang sudah diambil ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan,” ujar Wisnu.
Menurutnya, sampel yang dikumpulkan tidak hanya berasal dari menu makanan yang dikonsumsi para korban, tetapi juga sisa muntahan korban yang akan diperiksa guna mendukung proses identifikasi sumber gangguan kesehatan.
Adapun menu MBG yang diamankan sebagai sampel meliputi nasi, pergedel tahu, sambal telur, buah salak, serta tumis sayur jagung dan kol. Seluruh sampel tersebut akan diuji untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi yang dapat memicu gangguan kesehatan.
Selain itu, petugas juga mengamankan satu paket plastik berisi sisa makanan, sampel air minum isi ulang yang digunakan saat penyajian makanan, serta dua botol sampel air sumur dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi lokasi pengolahan makanan MBG.
Wisnu menegaskan, pemeriksaan laboratorium menjadi langkah penting untuk memastikan sumber penyebab dugaan keracunan yang terjadi. Hasil uji tersebut nantinya akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan instansi terkait dalam menentukan langkah penanganan lebih lanjut serta evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG.
“Semua sampel akan diperiksa secara menyeluruh. Kita masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian ini,” tutupnya.
Hingga kini, kondisi para korban dilaporkan terus dipantau oleh tenaga kesehatan, sementara pihak terkait masih melakukan investigasi untuk mengungkap penyebab pasti insiden tersebut.



