Peluncuran ekspor perdana 19,5 ton kopi ke luar negeri yang digagas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepahiang bersama Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bengkulu, Senin (7/9), menuai sorotan. Sejumlah pengusaha kopi lokal di Kabupaten Kepahiang mengaku sama sekali tidak dilibatkan dan tidak mengetahui agenda peluncuran tersebut.
Salah satu pengusaha kopi di Kepahiang, Diarmansyah, mengungkapkan bahwa para pelaku usaha daerah tidak pernah mendapatkan informasi maupun koordinasi terkait program ekspor ini.
“Sampai saat ini kami tidak dilibatkan, jadi kalau bicara apakah asal kopi yang diekspor itu adalah kopi lokal Kepahiang, kita juga kurang mengetahui. Yang pasti kopi kita tidak terlibat di dalam itu,” tegas Diar.
Di sisi lain, Diar menilai langkah penjualan komoditas ke luar negeri sebenarnya bernilai positif jika benar-benar menggunakan komoditas asli Kepahiang dan sekitarnya. Menurutnya, akses pasar ekspor secara langsung dapat meningkatkan harga jual kopi di tingkat petani lokal.
Meski demikian, klaim ekspor 19,2 ton kopi ke mancanegara tersebut kini memicu beragam pertanyaan di kalangan pelaku usaha daerah, terutama terkait transparansi sumber pasokan komoditas serta keterlibatan pengembang kopi lokal.
Ekspor perdana kopi Bengkulu itu dilepas oleh Wakil Gubernur Bengkulu Ir. H. Mi’an di Halaman Pemerintah Kabupaten Kepahiang, Senin (7/9), oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem komoditas kopi dari hulu hingga hilir.
Wakil Gubernur Bengkulu Ir. H. Mi’an, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat, Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata, Wakil Bupati Kepahiang Ir. H. Abdul Hafizh, Bupati Lebong H. Azhari, S.H., M.H., Sekretaris Daerah Kabupaten Rejang Lebong Iwan Sumantri, serta jajaran Forkopimda Kabupaten Kepahiang turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata mengatakan kopi Bengkulu selama ini telah dikenal sebagai salah satu komoditas unggulan, namun proses ekspornya masih dilakukan melalui daerah lain sehingga identitas asal Bengkulu belum sepenuhnya muncul dalam rantai perdagangan internasional.
“Selama ini kopi Bengkulu sebenarnya sudah dikenal, namun proses ekspornya masih melalui daerah lain. Hari ini menjadi sejarah untuk Bengkulu karena sudah ekspor dengan brand daerah sendiri yaitu Bengkulu,” kata Bupati
