Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kepahiang hingga Selasa (9/6/2026) belum dapat menyimpulkan penyebab pasti peristiwa keracunan massal yang menimpa 16 orang di SD Negeri 18 Kecamatan Kepahiang pada Kamis 4 Juni 2026 lalu. Pihak dinas menegaskan masih menunggu hasil resmi dari laboratorium.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Berdasarkan pengamatan di lapangan hingga saat ini, dapur atau Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) yang berlokasi di Dusun Kroya, Desa Taba Tebelet, terpantau masih ditutup sementara. Tidak ada aktivitas pembuatan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di fasilitas yang menyuplai makanan ke SDN 18 Kepahiang tersebut. Dapur ini sendiri disebut-sebut milik seorang pensiunan pejabat Polda Bengkulu.

Kepala Dinkes Kepahiang, Tajri Fauzan, mengatakan bahwa sampel makanan dan muntahan korban telah dikirim ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bengkulu. Meskipun awalnya dijanjikan selesai dalam tiga hari, Dinkes mengestimasi hasil uji laboratorium akan tuntas paling lambat 7 hari pasca pengiriman.

“Kemarin janjinya tiga hari, namun sampai hari ini belum ada. Kita harapkan paling lama 7 hari, jadi semua diminta bersabar,” ujar Tajri, Selasa 9 Juni 2026.

Hingga kini, penutupan sementara operasional dapur di Desa Taba Tebelet tersebut terus dilakukan guna mendukung kelancaran investigasi dan memastikan keamanan konsumsi ke depan sembari menunggu hasil uji klinis dari pihak BPOM.

Sebelumnya 16 orang dilarikan ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kelobok dan Pasar Kepahiang. Semuanya mengalami gatal-gatal hingga muntah pasca menyantap makanan pergedel tahun dan olahan telur dari SPPG MBG.

Print