INDOKAYA.COM UJAN MAS – Kekhawatiran serius muncul di kalangan masyarakat Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, menyusul terekamnya seekor Beruang hitam yang bertengger di puncak pohon tinggi, tepat di area Desa Suro Bali, Kecamatan Ujan Mas. Penampakan satwa dilindungi ini, yang berjarak relatif dekat dari aktivitas warga dan perkebunan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Rekaman video amatir yang didapatkan redaksi menunjukkan Beruang berukuran sedang dengan bulu hitam legam, tampak “nyaman” di ketinggian dahan, sesekali bergerak di antara rimbunnya dedaunan. Meski terlihat pasif, lokasi kemunculannya yang berada di jalur perlintasan warga menuju kebun memicu kegelisahan.

Gede, warga Desa Suro Bali mengungkapkan bahwa kemunculan beruang tersebut bukanlah fenomena yang bisa diabaikan. Ia mengatakan kemunculan beruang hitam ini sudah berlangsung sejak tiga hari terakhir, hingga Jum’at siang  5 Desember 2025 dirinya bersama rekan-rekan yang melakukan pencarian jejak beruang dikawasan perkebunan pinggiran Desa Suro Baru berhasil mengambil rekaman video melalui kamera handphone.

“Ini membuat kami sangat khawatir. Di sana itu jalur utama ke kebun. Kalau sampai beruang itu turun dan bertemu langsung dengan petani, risiko keselamatan sangat tinggi. Kami tidak berani mengambil risiko,” ujar Gede.

Insiden ini bukan yang pertama kali terjadi di Kabupaten Kepahiang. Sebelumnya, kemunculan beruang hitam sempat menghebohkan masyarakat di kawasan Komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepahiang. Beruang berukuran sedang ini melintas dijalan raya tepatnya didepan Rumah Dinas (Rumdin) Ketua DPRD Kabupaten Kepahiang, kejadian itu sempat menimbulkan kekhawatiran warga sekitar lokasi.

Bahkan tim BKSDA dari Rejang Lebong sempat diturunkan kelokasi kejadian untuk mencari keberadaan beruang hitam tersebut. Akan tetapi sampai saat ini, personil BKSDA tersebut belum berhasil menemukan jejak keberadaan beruang hitam itu.

Kabupaten Kepahiang, yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), memang menjadi zona merah bagi konflik satwa liar, terutama dengan Beruang Madu dan Harimau Sumatera. Kehadiran Beruang di luar habitatnya yang semestinya, seringkali disebabkan oleh dua faktor utama perambahan hutan dan kekurangan sumber pangan alami.

Alarm Rusaknya Habitat

Sebagai satwa omnivora yang berperan penting dalam ekosistem hutan, Beruang mencari makan hingga radius yang jauh. Jika mereka mulai memasuki desa atau perkebunan, ini adalah indikasi kuat bahwa tekanan terhadap habitat alami mereka telah mencapai titik kritis. Deforestasi untuk perluasan lahan pertanian atau perkebunan skala besar telah memotong koridor alami satwa ini, memaksa mereka bersinggungan dengan manusia.

“Munculnya Beruang Madu di Desa Suro Bali harus dipandang sebagai alarm ekologis. Ini bukan sekadar berita satwa tersesat, tapi cerminan dari rusaknya keseimbangan alam”

Data historis menunjukkan, Beruang yang merasa terdesak atau melindungi anak, dapat bertindak sangat agresif. Seranga Beruang dapat mengakibatkan luka serius, bahkan kematian pada petani atau pelintas batas hutan. Oleh karena itu, langkah preventif harus diutamakan sebelum insiden konflik terjadi.

Kejadian ini harus dapat dijaikan alarm peringatan kepada pemerintah daerah agar bisa menyediakan informasi dan sosialisasi kepada warga mengenai protokol keamanan saat bertemu satwa liar, serta memastikan jalur aman yang dilalui beruang tersebut steril dari aktivitas manusia.

Kemudian pemerintah bisa melakukan upaya penggiringan satwa secara bertahap dan non-agresif menggunakan metode penolakan yang aman (seperti suara keras atau bau-bauan yang tidak disukai beruang), dengan tujuan mengarahkan Beruang kembali ke kawasan konservasi.

Penting ditekankan bahwa penanganan konflik satwa liar harus dilakukan dengan memegang teguh prinsip konservasi. Beruang termasuk dalam kategori Rentan (Vulnerable/VU) dalam daftar merah IUCN. Pelukaan atau pembunuhan satwa ini, selain melanggar hukum, juga akan memperburuk kondisi ekosistem.

Situasi di Kepahiang saat ini membutuhkan koordinasi yang kuat antara BKSDA, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat. Ke depan, solusi jangka panjang harus melibatkan restorasi koridor satwa liar dan penanaman vegetasi yang menjadi sumber pangan Beruang Madu di batas hutan, agar satwa tidak perlu lagi mencari makan hingga ke pemukiman.

Print