INDOKAYA KEPAHIANG – Di tengah hiruk-pikuk gaya hidup modern yang serba instan dan konsumtif, kehadiran Bulan Suci Ramadhan kini dimaknai lebih dari sekadar kewajiban agama. Bagi masyarakat modern, Ramadhan mulai dipandang sebagai fase “detoksifikasi” mental dan laboratorium karakter yang paling efektif untuk melatih ketangguhan diri (resilience).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Jika secara historis Ramadhan diwarnai dengan kemenangan fisik seperti Perang Badar, di era milenial dan Gen-Z saat ini, “perang” yang sesungguhnya adalah melawan distraksi digital dan ego pribadi.

Detoksifikasi Ego di Ruang Digital
Puasa di abad ke-21 bukan lagi hanya soal menahan lapar, tetapi juga menahan jari. Fenomena berbagi takjil dan meningkatnya volume sedekah di Kabupaten Kepahiang, misalnya, menjadi bukti nyata bahwa empati masih bisa menang di tengah budaya pamer (flexing) yang marak di media sosial.

“Ramadhan adalah momen di mana kita dipaksa untuk ‘log out’ sejenak dari kepentingan diri sendiri dan ‘log in’ ke frekuensi sosial. Menahan haus itu mudah, yang sulit adalah menahan diri untuk tidak menghakimi orang lain di ruang publik,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.

Membangun ‘Growth Mindset’ Melalui Puasa
Dari sudut pandang psikologi karakter, rutinitas Ramadhan sebenarnya adalah pelatihan growth mindset (pola pikir bertumbuh) yang sangat sistematis:

Disiplin Waktu: Bangun sahur dan berbuka tepat waktu melatih manajemen waktu yang presisi.

Empati Kognitif: Dengan merasakan lapar, seseorang tidak hanya tahu secara teori tentang kemiskinan, tetapi merasakannya secara biologis. Ini adalah fondasi dari solidaritas sosial.

Konsistensi (Istiqomah): Melakukan ibadah selama 30 hari penuh adalah bentuk latihan pembiasaan (habit forming) yang kuat untuk membangun integritas.

Dari Masjid ke Gerakan Sosial
Refleksi Ramadhan di Kepahiang menunjukkan tren positif di mana masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual (salat dan tadarus), tetapi juga pusat distribusi kesejahteraan. Zakat mal dan zakat fitrah yang terkumpul menjadi mesin penggerak ekonomi bagi warga yang membutuhkan, menciptakan jaring pengaman sosial yang mandiri.

Ramadhan membuktikan bahwa nilai-nilai yang dibawa Nabi Muhammad SAW 14 abad lalu—seperti kesederhanaan dan kepedulian—adalah “obat” yang sangat relevan untuk menyembuhkan penyakit individualisme masyarakat modern.

Print