Bengkulu – INDOKAYA.com Sorotan terhadap kerusakan hutan dan kematian berulang Gajah Sumatera di Bentang Alam Seblat kembali menguat. Organisasi lingkungan Genesis mendesak pemerintah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap izin Persetujuan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) milik PT Bentara Agra Timber (PT BAT) dan PT Anugerah Pratama Inspirasi (PT API), bahkan hingga pencabutan izin apabila ditemukan pelanggaran serius.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dalam pernyataan resminya pada Jumat (08/05/2026), Genesis mencermati sikap Menteri Kehutanan Indonesia, Raja Juli Antoni, terkait evaluasi terhadap kedua perusahaan menyusul terus terjadinya tekanan terhadap kawasan hutan Bentang Alam Seblat serta kematian gajah yang berulang.

Menurut Genesis, kondisi di dalam kawasan PBPH PT BAT dan PT API sudah berada pada situasi serius yang membutuhkan tindakan tegas dari pemerintah. Tidak hanya evaluasi administratif, namun juga langkah pemulihan kawasan hutan secara berkelanjutan.

Berdasarkan hasil pemantauan citra satelit yang dilakukan Genesis selama Februari hingga April 2026, ditemukan masih adanya aktivitas pembukaan hutan di wilayah konsesi kedua perusahaan. Genesis mencatat degradasi hutan mencapai 410 hektare di area PT BAT dan 792 hektare di kawasan PT API.

Temuan tersebut dinilai menunjukkan bahwa operasi penertiban yang sebelumnya dilakukan pemerintah pada awal 2026 belum sepenuhnya mampu menghentikan aktivitas perusakan kawasan hutan.

Genesis menyebut kondisi itu berpotensi menciptakan window of opportunity deforestation, yakni situasi ketika lemahnya pengawasan dan kekosongan kontrol membuka peluang terjadinya percepatan perambahan serta hilangnya tutupan hutan secara masif.

“Persoalan di kawasan PBPH PT BAT dan PT API tidak lagi dapat dipandang sebagai kasus biasa. Berulangnya kematian gajah, terus berlangsungnya kehilangan tutupan hutan, serta lemahnya pengendalian kawasan menunjukkan adanya krisis pengelolaan kawasan hutan yang harus segera ditangani secara serius,” demikian pernyataan Genesis.

Selain meminta evaluasi izin, Genesis juga mendesak pemerintah memastikan adanya pengamanan permanen kawasan hutan, evaluasi terhadap pelaksanaan kewajiban perlindungan hutan oleh perusahaan, serta penegakan tanggung jawab pemulihan ekologis atas kerusakan yang terjadi di dalam area konsesi.

Genesis menegaskan bahwa perlindungan Bentang Alam Seblat bukan hanya soal menjaga tutupan hutan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan habitat penting bagi Gajah Sumatera dan satwa liar lainnya di Provinsi Bengkulu.

Mereka mengingatkan, hilangnya kawasan hutan secara terus-menerus akan memperbesar ancaman fragmentasi habitat dan konflik antara satwa liar dengan manusia di masa mendatang.

Sebagai bentuk pengawasan independen, Genesis menyatakan akan terus memantau perkembangan kondisi kawasan dan mendorong keterbukaan informasi serta langkah nyata pemerintah demi penyelamatan hutan dan perlindungan habitat satwa secara berkelanjutan.(Feb)

Print