Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Kepahiang menjadi kabupaten pertama yang mempresentasikan potensi investasi dalam kegiatan kurasi Bencoolen Investment Challenge (BLINC) 3.0 Tahun 2026 yang digelar Pemerintah Provinsi Bengkulu.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pada kesempatan tersebut, Bapperida Kepahiang mengangkat proyek strategis hilirisasi pengolahan biji kopi robusta sebagai peluang investasi yang ditawarkan kepada calon investor. Proyek tersebut dinilai memiliki prospek yang menjanjikan mengingat Kabupaten Kepahiang merupakan salah satu sentra produksi kopi robusta terbesar di Provinsi Bengkulu.

Kepala Bapperida Kabupaten Kepahiang, M. Salihin, S.Pt., M.Si, mengatakan Kabupaten Kepahiang mendapat kesempatan pertama untuk memaparkan materi investasi di hadapan tim kurasi dan para peserta kegiatan.

“Dalam kegiatan tersebut, Kabupaten Kepahiang mendapat giliran pertama untuk mempresentasikan materi investasi. Kami mengangkat proyek hilirisasi pengolahan biji kopi robusta karena memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dan layak ditawarkan kepada investor,” ujar Salihin saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa (7/7/2026).

Ia menjelaskan, Kabupaten Kepahiang memiliki potensi perkebunan kopi robusta yang sangat besar. Berdasarkan data tahun 2025, produksi kopi robusta di Kabupaten Kepahiang mencapai 21.988,35 ton, sekaligus menjadi produksi terbesar di Provinsi Bengkulu.

“Kabupaten Kepahiang memiliki potensi perkebunan berupa kopi robusta, di mana pada tahun 2025 produksinya mencapai 21.988,35 ton dan merupakan produksi terbesar di Provinsi Bengkulu,” paparnya.

Menurut Salihin, pemerintah daerah juga telah menyiapkan berbagai sarana pendukung guna merealisasikan proyek hilirisasi tersebut. Di antaranya rumah produksi yang berada di Desa Temdak serta fasilitas Resi Gudang di Desa Air Pauh, Kecamatan Seberang Musi.

“Untuk rencana tersebut, Kabupaten Kepahiang telah menyiapkan rumah produksi yang berlokasi di Desa Temdak dan Resi Gudang di Desa Air Pauh, Kecamatan Seberang Musi,” lanjutnya.

Dalam pemaparannya, Bapperida menawarkan skema kerja sama kepada investor melalui pola joint venture atau usaha patungan. Pemerintah Kabupaten Kepahiang akan menyertakan aset yang dimiliki, sedangkan investor diharapkan memberikan penyertaan modal untuk operasional perusahaan.

“Pemkab Kepahiang menyertakan aset, sedangkan pihak investor menyumbangkan dana selama lima tahun atau selama perusahaan beroperasi. Total nilai investasi yang dibutuhkan sebesar Rp106.832.027.054, dengan penyertaan modal Pemkab Kepahiang sebesar Rp11.973.727.054. Artinya, masih dibutuhkan investasi dari pihak swasta sebesar Rp94.858.300.000,” jelas Salihin.

Ia optimistis proyek hilirisasi kopi robusta tersebut memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Berdasarkan kajian yang telah disusun, proyek tersebut diperkirakan mampu menghasilkan pendapatan yang cukup besar dengan tingkat pengembalian investasi yang kompetitif.

“Proyek hilirisasi pengolahan kopi robusta di Kabupaten Kepahiang memiliki prospek yang sangat positif. Proyeksi pendapatan bersih per tahun mencapai Rp48.359.784.589 dengan nilai Internal Rate of Return (IRR) sebesar 35,27 persen dan Net Present Value (NPV) mencapai Rp76,489 miliar,” ungkapnya.

Melalui ajang BLINC 3.0, Pemerintah Kabupaten Kepahiang berharap potensi investasi yang dimiliki dapat semakin dikenal oleh investor, sehingga mampu mendorong masuknya investasi baru yang berdampak pada peningkatan nilai tambah komoditas kopi, terbukanya lapangan kerja, serta pertumbuhan ekonomi daerah.

Kegiatan kurasi BLINC 3.0 dibuka oleh Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, dan turut dihadiri Sekretaris Daerah, Kepala DPMPTSP, Kepala Bapperida kabupaten/kota se-Provinsi Bengkulu, perwakilan Bank Indonesia, serta tamu undangan lainnya.

Print