KEPAHIANG INDOKAYA.COM – Baru selesai pembangunan, jalan nasional atau ringroad penghubung Komplek perkantoran Pemkab Kepahiang Desa Tebat Monok sudah amblas. Kegiatan pembangunan jalan milik Balai Pembangunan Jalan Nasional (BPNJ) Bengkulu tersebut jadi pertanyaan banyak pihak, warga masyarakat mempertanyakan kualitas dari pembangu jalan nasional dengan nilai kontrak Rp 31.071.771.000 dengan sumber dana berasal dari APBN murni Tahun Anggaran (TA) 2024 – 2025.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kegiatan jalan yang belum seratus persen tuntas pengerjaan itu, sudah dipasangi pembatas oleh pekerja, di salah satu titik juga telah dipasang plang peringatan agar pengendara berhati-hati saat melintas. Akibatnya, di titik amblas hanya bisa dilewati dalam satu lajur saja. Terlihat pula, beberapa tiang pembatas ikut ambruk akibat amblasnya jalan.

Keprihatinan itu diungkapkan anggota DPRD Provinsi Bengkulu asal Kabupaten Kepahiang, Edwar Samsi SIP MM, yang sangat menyangkan kondisi proyek dari BPJN Bengkulu. Sudah seharusnya proyek nasional walupun dilaksanakan didaerah memberikan contoh bila pekerjaan berstandar nasional yang memiliki kualitas bagus, tidak gampang rusak.

“Kita prihatin kegiataan nasional, kualitasya seperti ini proyek ini dikerjakan oleh Balan Pembangunan Jalan Nasional (BPJN), mengapa kualitasnya seperti itu. Apalah informasinya tidak ada bencana alam dilokasi kejadian, tentunya ini jadi pertanyaan besar mengenai kualitasnya,” tegas Edwar Samsi.

Bastian Ansori SH

Politisi PDI Perjuangan ini meminta agar pihak kontraktor pelaksana kegiatan segera melakukan perbaikan, supaya tidak menjadi contoh buruk, kegiatan nasional yang ada di Provinsi Bengkulu. Sebab, masyarakat menginginkan setiap pembangunan jalan itu berkualitas serta memiliki daya tahan yang lama.

“Masyarakat maunya jalan mulus dan berkualitas, tentu sangat disayangkan jika kegiatan nasional kualitasnya seperti ini,” sebut Edwar.

Pertanyaan serupa disampaikan tokoh pemuda Kabupaten Kepahiang, Bastian Ansori SH menyoroti ambruknya jalan nasional yang dibiayai dari program Inpres Jalan Daerah (IJD) tersebut. Kerusakan jalan hotmix yang sudah menelan anggaran puluhan miliar dari pajak rakyat tersebut sangatlah disayangkan. Sebab, kejadian ini menimbulkan pernyataan besar dipikiran rakyat, mengapa jalan yang baru dibangun itu dapat hancur padahal tidak ada bencana alam disekitar lokasi kejadian.

“Patut dipertanyakan mengenai kualitas pekerjaan proyek jalannya, mengapa bisa ambruk seperti ini padahal baru selesai pembangunan,” terang Bastian Ansori.

Bastian berharap pelaksana IJD segera melakukan perbaikan serta meningkatkan mutu pekerjaan agar jalan yang nantinya akan diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepahiang benar-benar memiliki kualitas terbaik. Sehingga tidak menjadi beban daerah dalam melakukan perawatan nantinya pasca penyerahan aset dari Balai Pembangunan Jalan Nasional (BPJN) kepada daerah.

“Iya harapan kita pemerintah daerah juga jangan asal terimah nantinya saat adanya penyerahan, terlebih lagi kualitas pembangunan jika tidak bagus,” harap Bastian.

Berdasarkan papan informasi pembangunan yang terpasang dipinggir jalan riangroad, sepanjang 6 kilometer dibangun secara bertahap. Pada tahun 2023 sudah dihotmix sepanjang 3 kilometer sedangkan 3 kilometernya dilanjutkan pada tahun 2024-2025 dengan nilai anggaran Rp 31 miliar lebih melalui program IJD. Pembangunan jalan dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR), dilaksanakan oleh BPJN Bengkulu dengan menunjukan pihak rekanan PT Pulau Batu Intan. Kemudian konsultas pelaksana Arkade Gahana Konsultasn dan PT Surya Cipta. Dengan program kegiata bernama preservasi jalan pusat pemerintahan – tebat monok, nomor kontrak HK.0201-Bb25/SATKER PJN I/PPK 1.3/1998 dengan masa pengerjaan 2010 hari dimulai pada 18 Desember 2024 lalu.

Print